Dak Keraton, Solusi Nge Dak Rumah Murah Namun Berkualitas

Dak Keraton adalah jenis bahan bangunan yang sangat inovatif. Bahan ini digunakan untuk membangun dak rumah atau bangunan sebagai alternative dan solusi terhadap cara lama yang menggunakan bahan beton.

Selama ini para kontraktor bangunan lebih banyak yang menggunakan dak lantai beton saat membangun rumah atau gedung, khususnya untuk bangunan bertingkat. Padahal, pembangunan dengan dak beton sebenarnya terlalu mahal dan tidak efisien untuk menghasilkan rumah atau bangunan berkualitas.

Dak beton juga termasuk mahal dan jauh lebih boros, baik pada ragam bahan yang dibutuhkan, jumlah tenaga kerja yang melakukannya hingga lamanya waktu pengerjaan.

Selain itu, tak sedikit perencana desain maupun pelaksana bangunan yang memandang sebelah mata terhadap dak keraton karena dianggap sebagai produk dak beton lokal yang tidak menarik. Padahal, selain bahan bakunya banyak tersedia di bumi Indonesia, kualitas produknya sebenarnya tidak kalah dengan produk luar.

Penemuan Dak Keraton yang Inovatif

Karena itulah dak keraton dinilai sebagai temuan inovatif di bidang properti dalam menghasilkan rumah atau gedung bangunan yang jauh kuat, lebih berkualitas, namun harganya jauh lebih murah.

dak keraton bekasi

Nama dak keraton sebenarnya merupakan akronim terhadap bahan campuran yang digunakannya, yaitu hasil produk beton dengan komposit keramik. Untuk diketahui, bahan material ini sesungguhnya telah ada sejak seratus tahun lalu. Pada waktu itu beberapa negara Eropa, utamanya Jerman dan Belanda, mengadakan kerja sama teknologi konstruksi bangunan yang lebih efisien dan murah.

Nah, melalui proyek BantuanTeknis Pembangunan Industri Bahan Bangunan kemudian membawa teknologi material ini ke Indonesia dibawah pengawasan UIDO/UNDP melalui PBB Project INS/740/034. Teknologi yang inovatif inilah yang kemudian diberi nama KERAMIK BETON atau disingkat KERATON.

Namun setelah dibawa ke Indonesia, teknologi Dak Keraton tiak langsung diterapkan begitu saja. Bahan material Dak Keraton ini kemudian diteliti penggunaannya pada rumah contoh di Puslitbangkim Cipta Karya Pekerjaan Umum melalui proyek penelitian yang dilakukan pada tahun 1977. Penelitian ini kemudian memadukan dan mengembangkan konsep teknologi Dak Keraton yang diadopsi dari Eropa tersebut dengan konsep Ir. Emon Sulaiman (alm) dan Nasan Subagia.

Tak berhenti sampai di situ, pada tahun 1984 inovasi ini kemudian juga dimodifikasi lagi berdasarkan model yang dikembangkan oleh Ir. Judadi dan Dipl Ing Yudiro. Setelah itu seorang ahli bangunan bernama Ir. Bambang Mursodo berhasil mengembangkan modifikasinya pada tahun 1990 hingga menghasilkan Dak Keraton seperti yang dikenal saat ini.

Beton keraton adalah pelat berusuk dimana bentuknya mirip balok bata dengan bagian tengah terdapat lubang berongga. Lubang ini sengaja dibuat untuk mengurangi beban pelat lantai sekaligus untuk memberikan jaminan kekuatannya. Struktur seperti ini ternyata juga akan memudahkan saat pemasangannya dengan teknik pelat satu arah (one way slab) sehingga akan menghemat karena bisa menekan penggunaan besi beton sampai 70 persen.

Karena itulah material bangunan beton komposit keraton ini merupakan alternatif sekaligus solusi dalam pembuatan beton pelat lantai (ngedak) dalam pembangunan rumah atau gedung. Dibandingkan dengan sistem dak konvensional yang ada selama ini, nge-dak dengan Dak Keraton jauh lebih murah dengan hasil yang juga lebih kuat dan lebih berkualitas.